Showing posts with label IDE UMKM. Show all posts
Showing posts with label IDE UMKM. Show all posts

Penanaman dan Pemeliharaan Pohon Jati di Desa

Pola tanam untuk jati emas biasanya dilakukan secara monokultur dengan jarak tanam 2 x 2,5 m. Dalam satu hektar lahan bisa ditanam sebanyak 2.000 tanaman. Apabila diterapkan pola tanam tumpang sari, dengan jarak tanam 3 x 6 m maka dalam satu hektar bisa ditanam 555 pohon. Lubang tanam dibuat berukuran panjang, lebar dan dalam Sebesar 60 cm. Sebelum bibit jati ditanam, sebaiknya lahan dipersiapkan terlebih dahulu, dengan membersihkan dari rumput dan belukar. Akan lebih baik apabila tanah diolah terlebih dahulu. Kalaupun tidak diolah, maka areal tempat dibuat lubang harus bersih. Ukuran lubang adalah 40 x 40 x 40 cm atau kalau menginginkan lubang yang besar dapat dengan ukuran 50 x 50 x 50 cm, dengan jarak antar lubang tanam yaitu setidaknya 2 x 2 m (populasi 2500 tanaman/ha) atau akan lebih baik jika 3 x 3 m (populasi sekitar 1100 tanaman/ha). Jarak tanaman ini akan mempengaruhi proses penjarangan tanaman, dimana semakin pendek jarak antar tanaman akan memerlukan penjarangan yang lebih banyak, hal ini dalam kaitan pertumbuhan tanaman pada fase vegetatif dan generatifnya. Lubang tanam yang telah dibuat kemudian diberi pupuk kandang dengan jumlah antara 5 – 10 kg/lubang. Apabila pupuk kandang yang kita gunakan masih mentah, sebaiknya bibit jati jangan langsung ditanam karena justru bisa mati. Pada saat mau menanam, sebaiknya pada lubang tanam ditambahkan pupuk SP36 sebanyak 100 – 200 gr/lubang dan pupuk Urea 50 – 100 gr/lubang. Pupuk ini diaduk bersama dengan pupuk kandang dan tanah yang ada di lubang, baru setelahnya bibit jati dapat ditanam. Untuk lebih menjaga bibit jati dari serangan hama penyakit, dapat ditaburkan pestisida karbufuran seperti furadan atau merk dagang lainnya. Meskipun tanaman jati ini dapat tumbuh tanpa kita pupuk karena perakarannya yang memungkinkan untuk mencari hara yang diperlukan, tetapi akan lebih baik apabila setiap 6 bulan sekali selama minimal 3 tahun kita lakukan pemupukan dengan NPK dengan dosis sekitar 150 – 200 gr per tanaman.Tanaman Jati Umur , 1 Tahun Kebersihan dari gulma seluas canopy harus dijaga dengan melakukan pendangiran 3 bulan dan 6 bulan setelah penanaman pada saat akan melakukan pemupukan. Pruning, pemangkasan tunas samping dilakukan sampai ketinggian 6 m dari permukaan tanah. Perawatan lainnya adalah jangan biarkan banyak rumput di sekitar pohon, minimal dalam radius 1 m dari batang pohon. Lakukan pruning pada tunas yang tumbuh sampai ketinggian 4–5 m, sehingga pohon dapat tumbuh tinggi dan tidak bercabang.
Perbanyakan secara genaratif dilakukan dengan cara Fisika atau Kimia. Sebagai salah satu perbanyakan tanaman secara Vegetatif, stek menjadi alternatif yang banyak dipilih orang karena caranya sederhana, tidak memerlukan teknik yang rumit sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja. Wudianto (1988) mendefinisikan stek sebagai suatu perlakuan pemisahan, pemotongan beberapa bagian tanaman (akar, batang, daun dan tunas) dengan tujuan agar bagian-bagian itu membentuk akar. Dengan dasar itu maka muncullah istilah stek akar, stek batang, stek daun, dan sebagainya. Selain itu juga perbanyakannya juga dapat dilakukan dengan cara Stumb.
            Penjarangan dan penebangan dilakukan dengan berbagai pertimbangan yang mungkin bisa dilakukan ini tergantung pada: Jarak tanam; Kesuburan tanah; Perawatan;Pelaksanaan penjarangan sendiri didasarkan atas beberapa pertimbangan antara lain: Pertimbangan ekonomis; Jumlah pohon persatuan luas ideal; Penjarangan sistematik; Penjarangan seleksi rendah; Penjarangan tajuk; Berkaitan dengan prinsip-prinsip penjarangan tersebut, maka yang ideal adalah dilakukan dengan kaidah selemah mungkin akan tetapi sesering mungkin. Sebab penjarangan yang terlalu keras akan menyebabkan ruang tumbuh yang terlalu terbuka yang mengakibatkan tanaman menjadi lunglai, sedangkan penjarangan yang telalu lemah menyebabkan menjadi kurang optimal pertumbuhannya.

Kondisi Ekologi yang Cocok Untuk Tanam Jati Di Pedesaan

Untuk penanaman jati dalam areal yang luas, maka sebagaimana tanaman perkebunan lainnya persyaratan ekologis mutlak diperlukan. Ini lebih pada tingkat keberhasilan penanaman jati yang kita laksanakan.
Sebenarnya tanaman jati tidak memerlukan kondisi tanah dengan topografi yang terlalu menuntut, tetapi akan lebih baik apabila tanah pada kisaran kemiringan lereng dari datar sampai maksimum 20%. Ini juga dalam kaitan mencegah terjadinya erosi besar-besaran saat tanah diolah untuk penanaman, sehingga tanah yang memiliki kemiringan curam tidak dibenarkan untuk dibuka.Jenis tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman jati adalah tanah yang memiliki tekstur lempung, lempung berpasir atau liat berpasir, meskipun untuk beberapa jenis tanah tanaman jati masih dapat tumbuh dengan baik.
Tanaman jati ini sangat menyenangi tanah dengan prorositas dan drainase yang baik, dan sebaliknya akan tumbuh tidak baik pada tanah-tanah yang tergenang. Tanaman jati memerlukan curah hujan pada kisaran 750 – 2500 mm/tahun, meskipun untuk curah hujan > 3000 mm/tahun masih dapat tumbuh meskipun kekuatan kayu yang dihasilkan tidak terlampau baik. Suhu yang paling optimum untuk tanaman jati adalah sekitar 32 – 42 °C dengan kelembaban 60-80%.
Tanah yang idela untuk penanaman jati adalah tanah jenis alluvial dengan pH 5- 8. Topografi tanah dengan kemiringan kurang dari 20%.

Informasi Investasi Pohon Jabon di Purwakarta Jawa Barat

JABON (Anthocephalus cadamba) Sejenis kayu keras yang pertumbuhanya sangat cepat dapat tumbuh cepat dan subur. Kayu Jabon dapat hidup di tanah Lempung, pod solid, tanah liat, tanah berbatu dan lain-lain.Saat ini kayu Jabon menjadi andalan industri perkayuan seperti:kayu lapis, playwood, industri mebel, plup produsen peti buah, mainan anak-anak, korek api, alas sepatu, papan,triplek dan lain-lain. Nilai Eksport ke negara industri maju sebagai kayu bubur kertas seperti di Jepang.
KEUNGGULAN
  1. Tumbuh sangat cepat di bandingkan kayu keras lainnya.
  2. Tidak memerlukan perawatan khusus.
  3. + tahun 1993 – 2011 belum di temukan penyakit yang mematikan seperti Tumor karat (Albasia).
  4. Tidak memerlukan pemangkasan,karena pada masa pertumbuhan cabang akan rontok dengan sendirinya (Selfpurning).
  5. Masa produksi jabon yang sangat singkat 4 – 5 tahun sudah bisa panen.
  6. Berbatang silinder dengan tingkat kelurusan yang sangat bagus.
  7. Harga jual jauh lebih tinggi.
Tanaman Jabon bagai Tanaman Emas

Masa produksi yang begitu cepat 4 -5 tahun saat ini Jabon sebagai kayu andalan industri maju perkayuan.Kebutuhan kayu akan terus meningkat seiring albasia sebagai kayu andalan industri nyaris punah terserang berbagai penyakit yang mematikan.Jadi bisa di katakan masa mendatang 5-10 tahun Jabon akan terus melambung  + 1,5 juta/ m³.Belum lagi pemerintah melarang penggunaan kayu bulat hasil penebangan hutan alam akibatnya banyak industri cukup kekurangan pasokan kayu.
Tanaman Jabon Bagai Tanaman Emas
  1. Muhamad Instaf SH. Desa Rawa Urip, Kec.Pangenan-Cirebon, dalam Usia 6 tahun ada yang mencapai 40 – 45 m.
  2. Pak Hasan.Tanam 625 dalam 4 – 5 tahun mampu menghasilkan 800 – 1000 m³.
  3. DI kalangan PON-PES Ternama “BENDA” Sukses dalam tanam jabon.



PENJUALAN/PUSAT PENAMPUNG 
  1. PT.HENDRATNA
  2. PT.SERAYU MAKMUR KAYU INDO (SMK) Banjarnegara dan ratusan cabang di Purbalingga
“PD. TUTURUBUS : MENAMPUNG KEMBALI HASIL PANEN POHON JABON”

POLA TANAM
1.  2 x 2,5 m dapat menanam bibit sebanyak + 2000 pohon
2.  3 x 3    m dapat menanam bibit sebanyak + 1000 pohon
3.  4 x 4    m dapat menanam bibit sebanyak + 625 pohon
4.  4 x 5    m dapat menanam bibit sebanyak + 500 pohon
  1. Buka tanah dengan cangkul 40 X 40 cm dengan kedalaman + 40 cm
  2. urug kompos + 2,5 kg, NPK + Puradan (1 sendok) sisakan tingg 10cm u/ kantong air

PERAWATAN
Semprot Pestisida secara aktip per 1 atau 2 minggu sekali selama 3-5 bulan tergantung keadaan gangguan ulat dan belalang daun setelah daun sudah cukup banyak Fungsida sudah tidak perlukan lagi karena daun tak akan habis.

Setelah umur 1- 2 tahun 10 kg kompos dan 2 ons NPK.
2 – 3 tahun 20 kg kompos dan NPK 7,5 ons
Atau
1 – 2 tahun 30 kg kompos
2 – 3 tahun 30 kg kompos
Catatan:<p>Lakukan pemupukan minimal 1 – 2 X dalam setahun</p>(TAPI JIKA ADA KEMAMPUAN LEBIH BAIK,PEMUPUKAN SAMPAI BATAS USIA PANEN 5 – 6 TAHUN AGAR HASIL LEBIH MAKSIMAL)

“MANFAATKAN LAHAN TIDUR / LAHAN BELUM TERPAKAI /LAHAN TERLANTAR ANDA MENJADI TAMBANG EMAS”

Dengan lahan tidur / lahan yang belum terpakai / lahan terlantar yang anda miliki, dan tanpa mengeluarkan biaya investasi lainnya dalam periode 5 tahun berpotensi mendapat hasil sebesar
Rp. 35.000.000,-/hektar *)
Atau
Sebagai pemilik lahan dan juga dengan merangkap sebagai investor dengan total investasi Rp. 20jt per-hektar dalam periode 5 tahun
berpotensi mendapat hasil sebesar:
Rp. 210.000.000,-/hektar *)

KONSEP SYARIAH
Pola kerjasama dengan konsep BAGI HASIL dengan skim sebagai berikut  :
Pemilik lahan                                          =    10 % 
Investor                                                   =     50 % 
Petani penggarap                                    =     25 % 
Pengelola PD. TUTURUBUS                 =     15 % 
Total                                                        =    100 % 
Keterangan:
  1. PEMILIK LAHAN adalah Orang/Perusahaan/Organisasi yang mempunyai lahan dengan bukti kepemilikkan yang sah (Surat Girik/AJB/HGU/SHM).
  2. INVESTOR adalah Orang/Perusahaan/Organisasi yang membiayai penanaman awal dengan total investasi sebesar Rp. 20.000.000,- per-hektar lahan.
  3. PETANI PENGGARAP adalah Kelompok Masyarakat Tani di sekitar lokasi lahan yang dibina dan bertindak sebagai pelaksana dari penanaman, perawatan dan pemanenan selama masa tanam sampai dengan panen.
  4. PENGELOLA adalah PD. TUTURUBUS  yang mengelola dan bertanggung jawab sejak mulai penanaman awal sampai dengan penjualan hasil panen.
INVESTASI AWAL SEBESAR Rp. 20JUTA DIPERGUNAKAN UNTUK
PENANAMAN 625 POHON JABON DALAM 1 HEKTAR LAHAN.
DENGAN ASUMSI 5 TAHUN KEDEPAN AKAN MENGHASILKAN
SEKITAR 500 M3 KAYU JABON DARI 600 POHON JABON,
HARGA 5 TAHUN KEDEPAN DIPERKIRAKAN SEKITAR Rp. 1.000.000,-/M3,
SEHINGGA DALAM 5 TAHUN MENGHASILKAN ± 500 JUTA RUPIAH**)
BEBAN DIPERKIRAKAN 30 PERSEN
( BIAYA TEBANG, TRANSPORT KE PABRIK, ZAKAT, PAJAK, DSB) DARI 500 JT

,SEHINGGA HASIL BERSIH DIPERKIRAKAN MENCAPAI 350 JUTA RUPIAH
DALAM 5 TAHUN

SEHINGGA ESTIMASI PENDAPATAN: 
Pemilik lahan     = 10 % x Rp. 350jt    =     Rp. 35.000.000,-
Investor                     =   50 % x Rp. 350jt          =         Rp.175.000.000,-
Petani penggarap     =   25 % x Rp. 350jt          =         Rp.  87.500.000,-
Pengelola.                 =   15 % x Rp. 350jt          =         Rp.  52.500.000,-
HAK PEMILIK LAHAN ADALAH
10 PERSEN HASIL BERSIH DARI 350 JUTA ATAU
SEKITAR  35 JUTA RUPIAH/HEKTAR!

PEMILIK LAHAN DAPAT JUGA MERANGKAP SEBAGAI INVESTOR
DENGAN MEMBIAYAI PENANAMAN AWAL SEBESAR Rp. 20JUTA/HEKTAR
SEHINGGA DI TAHUN KE-5 AKAN MEMPEROLEH HASIL:
Pemilik lahan  = 10 % x Rp. 350jt    =     Rp.   35.000.000,-
Investor          =  50 % x Rp. 350jt    =     Rp. 175.000.000,-
TOTAL PENDAPATAN                      =     Rp. 210.000.000,-
HAK PEMILIK LAHAN YANG JUGA MERANGKAP SEBAGAI INVESTOR ADALAH
10% + 50% HASIL BERSIH DARI 350 JUTA ATAU
SEKITAR  210 JUTA RUPIAH/HEKTAR!
“BIAR UANG ANDA YANG BEKERJA UNTUK
ANDA”
Catatan:
*) Pembagian hasil akan dibayarkan secara tunai, segera setelah penjualan hasil panen diakhir masa periode tanam.
**)Estimasi Perhitungan berdasarkan masukkan dari berbagai sumber dengan perkiraan hasil dan harga terendah.
Tunggu Apa Lagi Untuk
Mulai??
HUBUNGI:
PENANGKAR BENIH DAN BIBIT PERTANIAN DAN KEHUTANAN
“TUTURUBUS”
Jl. RAYA TIMUR KM 32 KECAMATAN CICALENGKA KABUPATEN BANDUNG
Contact Person : WAWAN SETIAWAN
HP. 085294779584
Email: one_ftr@yahoo.co.id 
REFERENSI:
Apa itu JABON ? Mengapa JABON ? 
Jabon atau dalam bahasa latinnya disebut Anthocephalus cadamba merupakan tanaman kayu yang sebenarnya tumbuh liar di hutan. Tumbuhan ini sebenarnya dulu di tahun 1970-an sangat terkenal namun karena perkembangan eksploitasi hutan dan beralih fungsinya hutan menjadi ladang atau kebun menjadikan tanaman ini sulit ditemukan. Tanaman jabon sebenarnya merupakan tanaman yang dapat menjadi konservasi bagi tanah dan hutan karena sifatnya yang memiliki akar serabut dan banyak sekali menyerap air. Sebagai tanaman hutan, jabon jarang sekali dibudidayakan karena karakteristik tanamannya membuat budidaya jabon menjadi unik dan sangat bergantung pada alam sehingga tidak dapat direkayasa. Tanaman jabon mulai dilirik oleh pelaku ekonomi semenjak bahan baku industri perkayuan memiliki keterbatasan sumber daya sehingga memerlukan alternatif bahan baku. Ketersediaan bahan baku industri perkayuan seperti jati, sengon, mahoni, dll sangat terbatas karena memang umur tebang pohon yang relatif lama (lebih dari 8 tahun).


Tanaman jabon memiliki karakteristik yang unik
Ø  Jabon mudah tumbuh tanpa perlakuan khusus dan ekstrim.
Ø  Batang jabon memiliki karakteristik yang unik yaitu silinder dan tegak lurus
Ø  Cabang jabon dapat rontok dengan sendirinya sesuai dengan umur dan iklim sehingga dapat   mengoptimalkan tumbuh kembang batangnya secara mandiri.
Ø  Warna kayu jabon putih kekuning-kuningan sehingga memenuhi syarat karakteristik bahan baku      furniture.
Ø  Serat kayu jabon padat halus sehingga sangat sesuai untuk produk plywood atau furniture.
Ø  Jabon memiliki ekologi tumbuh pada ketinggian 0 sampai 1000 dpl sehingga memiliki cakupan kesesuaian tanam yang lebih luas dibanding tanaman kayu yang lain.
Ø  Tanaman jabon dapat tumbuh pada pH tanah antara 4,5 sampai 7,5.
Ø  Tanaman jabon dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1500 sampai dengan 3000 mm/th.
Ø  Suhu lingkungan tempat tanaman jabon tumbuh berkisar antara 14 sampai 40 derajat celcius.
Ø  Usia tebang jabon relatif singkat yaitu berkisar antara 5 sampai 8 tahun.
Ø  Secara ekonomis, jabon merupakan bahan baku untuk pembuatan industri multipleks, kertas, furniture, kerajinan tangan, pensil, dll.
Menanam Jabon Bagaikan Menanam Emas 

Jabon (Anthocephalus cadamba), adalah salah satu jenis kayu yang pertumbuhannya sangat cepat dan dapat tumbuh subur di hutan tropis dengan ketinggian 0–1000 m dpl (di atas permukaan laut). Saat ini jabon menjadi andalan industri perkayuan, termasuk kayu lapis, karena jabon memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan tanaman kayu lainnya termasuk sengon / albasia.
Dari hasil uji coba yang telah dilakukan, keunggulan tanaman jabon dapat diuraikan dari beberapa sisi, diantaranya adalah:
Ø  Diameter batang dapat tumbuh berkisar 10 cm/th.
Ø  Masa produksi jabon yang singkat, hanya 4–5 tahun.
Ø  Berbatang silinder dengan tingkat kelurusan yang sangat bagus.
Ø  Tidak memerlukan pemangkasan karena pada masa pertumbuhan cabang akan rontok sendiri (self prunning).
Nilai Ekonomi

Budidaya tanaman jabon akan memberikan keuntungan yang sangat menggiurkan apabila dikerjakan secara serius dan benar. Perkiraan dalam 4–5 tahun mendatang, diperoleh dari penjualan 625 pohon berumur 4–5 tahun sebanyak 800–1.000 m3 per ha. Prediksi harga jabon pada 5 tahun mendatang Rp 1,2-juta/m3. Dengan harga jual Rp1,2 juta per m3 dan produksi 800 m3, maka omset dari penanaman jabon mencapai Rp 960 juta per ha. Saat ini harga per m3 jabon berumur 4 tahun mencapai Rp 716.000; umur 5 tahun Rp 837.000. Andai harga jabon tak terkerek naik alias Rp 716.000 per m3, maka omset dari budidaya jabon Rp 572.800.000.
Dari hasil perhitungan yang telah dilakukan pada tanaman jabon setelah dipanen pada usia 8-10 tahun (asumsi harga terendah, dan batang terkecil) pada setiap batang kayu jabon diperoleh kayu yang bisa dijual sebanyak 1,5 m³, harga per kubik saat ini Rp 1.000.000,-
Sehingga harga terendah 1 pohon jabon usia 8-10 tahun minimal seharga Rp 1.500.000,-

Informasi harga kayu jabon per kubik pada tahun 2009 :
1. Diameter 30-39 cm, Rp 1.000.000,-
2. Diameter 40-49 cm, Rp 1.100.000,-
3. Diameter > 50 cm, Rp 1.200.000,-.
Harga ini diprediksi akan mengalami kenaikan seiring dengan tingkat kebutuhan/permintaan yang semakin bertambah tiap tahunnya, sedangkan persediaan kayu jabon semakin lama semakin terbatas.

Peluang Investasi
Menanam jabon bagaikan menanam emas, sebab kebutuhan kayu akan terus meningkat, karena saat ini pemerintah melarang penggunaan kayu bulat hasil tebangan hutan alam, akibatnya banyak industri tutup akibat kekurangan pasokan kayu, jadi pada masa mendatang, harga kayu jabon akan semakin meningkat terus. Investasi tanaman keras/kayu yang menguntungkan dan menjanjikan.
Harga kayu jabon di pasaran relatif tinggi. Adapun harga jual jabon yang usia tebangnya antara 7 sampai 10 tahun dengan asumsi tiap batangnya mampu menghasilkan 1,5 m³. Pada tahun 2009, harga log kayu jabon berkisar antara Rp 850.000 sampai Rp 1.100.000 / m³. Berdasarkan harga minimal yaitu Rp 850.000 per meter kubik, maka apabila 1 batang kayu jabon usia tebang 8 tahun mampu menghasilkan setidaknya Rp 1.375.000 per batang. Berdasarkan karakteristik jabon dan keunggulannya secara ekonomis maka kita perlu melirik jabon menjadi salah satu alternatif untuk usaha karena memiliki peluang yang masih terbuka lebar dan sangat berpotensi return yang besar bagi kegiatan investasi anda.
ANALISA INVESTASI MENANAM
POHON JABON

Penanaman dengan jarak tanam per 4 x 4  meter dalam  1 Ha akan dapat menanam pohon Jabon sebanyak 625 batang..

-Biaya Perawatan
Biaya Perawatan meliputi biaya pembersihan lahan dan pemberian pupuk serta pengendalian hama setiap 6 bulan sekali. Pekerjaan akan melibatkan tenaga kerja sebanyak 6 orang. Terdiri 1 (satu orang) pengawas dan 5 (empat) orang pekerja. Diperkirakan akan memakan waktu 20 hari kerja untuk setiap 1 hektar lahan.
<p>Perhitungan Biaya Perawatan :</p>Upah Tenaga Kerja per orang                                     : Rp.     3.900.000,-           
Jumlah Biaya Pemeliharaan selama 5 Tahun                : Rp.     5.000.000,-
Kebutuhan Pupuk                                                         : Rp.     3.600.000,-           
Jumlah Biaya Perawatan                                     : Rp.   12.500.000,-           



-Biaya Penyulaman
Biaya penyulaman adalah estimasi atas kemungkinan tanaman yang kurang sehat atau mati. Apabila perkiraan tanaman yang mati sebesar 25% dari total 625 tanaman. Maka jumlah penyulaman sebanyak  156 pohon. Biaya penyulaman per pohon = (12500000,-/625)= Rp. 20.000,-/pohon

<p>-Total Kebutuhan Dana Investasi Kayu Jabon</p>Perhitungan Biaya :
Pembelian Bibit                                                :  Rp.       2.500.000,-
Ongkos Tanam                                                 :  Rp.      1.500.000,-
Biaya Perawatan                                              :  Rp.    12.500.000,-
Biaya Penyulaman 25% est                             :  Rp.      3.120.000,-
Lain-lain                                                            :  Rp.         380.000,-
Total Biaya                                                     Rp.   20 .000.000,-<p> </p>


Info lebih lanjut hubungi :

 “ Anda ber-Investasi, kami TUTURUBUS siap mengelola Asset anda “

Prosentase Bagi Hasil :
Pemilik lahan 10 % - Petani Penggarap 25% -TUTURUBUS 15% - Anda(Investor) 50%
Ayo rangkai masa depan hidup Anda dan Keluarga dengan Menanam !!
Lahan siap Tanam, 1 kavling seluas 0,5 Hektar
Nilai Investasi Rp. 10.000.000,-/Kavling

NO
DESA
LUAS LAHAN

1. Nagrog 2 Ha

2. Narawita 5 Ha

3. Margaasih4 Ha

4. Babakan Peuteuy2 Ha

5. Dampit 28 Ha

6. Tanjung Wangi 20 Ha

  • Lokasi lahan diatas di wilayah kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung

Berkeinginan mempunyai usaha sampingan tanpa mengganggu waktu Anda
 Atau anda bingung punya modal tak punya lahan usaha dan waktu
Kami solusinya !.
“DEPOSITO BERJANGKA 5 TAHUN”
“DENGAN SUKU BUNGA/LABA USAHA 1000%/5 TAHUN (10X MODAL)”
-         Kecil Menanam Dewasa Memanen   -
Proses Investasi :
-          Minat
-          Survei lahan
-          Mendapatkan Presentase dari Pengelola (TUTURUBUS)
-          Deal
-          Perjanjian Investasi di hadapan Notaris
-          Penanaman dimulai


DIATAS ADALAH ILUSTRASI HARGA SUATU SAAT DAPAT BERUBAH KARENA POSTINGAN INI DI POST TAHUN 2016 APRIL


Usaha Budidaya Pohon Sengon dan Investasi Sengon

Pada awalnya sengon hanyalah pohon biasa yang tumbuh secara bebas di kebun-kebun rakyat yang penanamannya belum memperhatikan kaidah-kaidah pembudidayaan tanaman. Saat itu masyarakat mengenal sengon taklebih dari sekedar pohon yang kayunya dapat dijadikan kayu bakar, daunnya untuk pakan ternak, dan pohonnya dapat dijadikan peneduh di perkebunan-perkebunan the, kopi atau vanili. Dengan adanya perkembangan dalam bidang perkayuan yang sangat pesat dan semakin menipisnya ketersediaan kayu, saat ini sengon merupakan jenis pohon yang cukup potensial untuk dikembangkan.


Dalam skala industri, pemilihan sengon sebagai salah satu jenis pohon yang diproritaskan untuk pengusahaan hutan tanaman industri (HTI) merupakan suatu pilihan yang tepat. Sengon dapat dipanen pada umur  yang relatif singkat yaitu 5-7 tahun setelah tanam sehingga sangat menguntungkan untuk diusahakan dalam skala besar seperti pengusahaan HTI. Dengan masa pengusahaan 35 tahun ditambah satu kali masa rotasi, pengusahaan HTI sengon akan bisa menjamin ketersediaan bahan baku bagi industri pulp dan kertas. Sengon sendiri akan menjadi bahan baku pulp yang sangat kompetitif dibandingkan dengan jenis pohon lainnya. Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dengan menanam sengon antara lain sebagai berikut :

1. Masa tebang relatif pendek.
2. Pengelolaan relatif mudah.
3. Persyaratan tempat tumbuh tidak rumit.
4. Kayunya serba guna.
5. Permintaan pasar terus meningkat.
6. Membantu menyuburkan tanah dan memperbaiki kualitas lahan.

Dengan masa tebang yang relatif pendek, pada tahun keenam pengusahaan HTI sudah dapat menangguk bahan baku berupa kayu sengon untuk keperluan industri terkait. Dengan demikian, di samping dapat menghemat waktu, pengusahaan sengon juga dapat menghemat biaya dan tenaga. Biaya pembangunan akan lebih ringan pada jenis pohon yang tumbuh cepat atau berotasi pendek seperti sengon ini. Hal ini disebabkan adanya cash flow masuk dari hasil penebangan yang segera dapat mengurangi biaya yang telah dikeluarkan. Dengan melihat beberapa kelebihan sengon dibandingkan jenis pohon lainnya maka pengusahaan hutan tanaman industri sengon merupakan suatu pilihan yang sangat rasional.

1.      Persiapan lokasi kegiatan pembibitan
Mencari daerah yang sesuai untuk penanaman sengon tidak sulit selagi petani memiliki tanah kosong yang cukup luas dengan kesuburan tanah yang memadai maka sengon mulai tumbuh di tempat tersebut. Apalagi lokasinya berdekatan dengan daerah budi daya, maka kegiatan pembibitan akan baik asalkan ketersediaan airnya terpenuhi tanaman sengon akan tumbuh dengan baik.
Persiapan pembangunan bendengan/tempat pembibitan
Dalam kegiatan pembibitan skala kecil maka diperlukan sebuah bendeng tabur, yang dimana bendeng ini dapat dibuat seperti ruangan berukuran 3,5x4 m dengan dinding kawat pagar dan atap plastik putih bergelombang. Bendeng tabur dengan ukuran tersebut dapat diisi dengan meja tabur berukuran 3x1 m sebanyak 2 buah. Dengan menggunakan baki kecambah berukuran 27x35 cm, satu meja dapat diisi 31 baki kecambah. Dalam pembangunan bendeng tabur yang penting diperhatikan adalah ketersediaan air, suhu, oksigen, dan cahaya dalam jumlah yang cukup untuk perkecambahan.                        
2.      Persiapan Benih
Untuk mendapatkan benih sengon yang berkualitas sebaiknya para peminat membeli benih yang bersertifikat. Benih bersertifikat sudah melalui tahap pengujian, baik mengenai kadar air, kematangan fisiologis, maupun daya kecambahnya. Namun, apabila persediaan benih sengon habis maka para peminat dapat mengunduh benih sengon sendiri dari pohon-pohon sengon yang telah tua. Pohon sengon umur 8,5 tahun merupakan pohon yang ideal diambil benihnya. Syarat benih sengon yang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Kulit benih berwarna cokelat tua
2.      Ukuran benih maksimum
3.      Tenggelam dalam air ketika benih direndam
4.      Bentuk benih masih utuh
Benih dengan ciri-ciri tersebut apabila diperoleh dari pohon sengon yang unggul akan menghasilkan pohon-pohon sengon yang unggul pula.
3.      Penyemaian benih
            Setelah melalui tahap perlakuan persiapan benih, benih telah siap disemaikan. Pelaksanaan penyamaian dilakukan segera setelah perlakuan persiapan benih dilakukan. Beberapa hal yang perlu dipersiapkandalam penyemaian ini adalah sebagai berikut:
1.      Baki kecambah yang bagian bawahnya di lubangi agar drainase lancer
2.      Bandeng tabor yang ukurannya disesuaikan kebutuhan
3.      Media semai berupa pasir sungai yang sebelumnya disterilisasi lebih dahulu
4.      Sprayer untuk menyiram  persemaian
5.      Perlengkapan penggorengan media semai
Penyemaian benih dilakukan pada baki kecambah yang diletakkan di atas meja dalam bendeng tabur. Benih ditabur dalam larikan dengan jarak tabur 2x1 cm di atas media semai yang telah dimasukkan ke dalam baki kecambah.
            Media semai sebaiknya disterilisasi terlebih dahulu dengan cara menggorengnya sampai panas dan benar-benar kering. Untuk penggorengan media semai dapat digunakan drum bekas yang telah dicuci terlebih dahulu.sampai bersih dan dibelah menjadi dua bagian. Drum yang telah dibelah diletakkan di atas tungku api, kemudian pasir sungai dituangkan ke dalam drum selama 2 jam sampai pasir benar-benar kering. Setelah didinginkan kembali, media dituangkan ke dalam baki kecambah yang telah dipersiapkan. Sebelum ditaburi benih media semai disiram terlebih dahulu dengan air bersih menggunakan sprayer sehingga mencapai kapasitas lapang dan seluruh bagian media semai terbasahi.
4.      Penyapihan bibit
Penyapihan merupakan kegiatan pemindaan semai yang sehat pada ukuran dan umur tertentu dari bedeng tabur ke dalam pot berupa polibag atau pot trays. Pot trays adalah kotak tempat menumbuhkan bibit-bibit yang berupa gabungan beberapa pot kecil dengan ukuran yang bervariasi. Penggunaan pot trays untuk pertumbuhan bibit dianjurkan karena penggunaanya cukup praktis. Media yang digunakan untuk pertumbuhan bibit dapat berupa top soil (lapisan permukaan tanah). Kompos serbuk kayu, dan media yang terbuat dari serbuk serabut kelapa. Beberapa hal yang perlu diperhatikan  dalam tahap penyapihan adalah:
1.      Kesehatan bibit siap sapih
2.      Kebersihan atau kesterilan alat
3.      Tenaga kerja yang terampil
4.      Ketersediaan air bersih
5.      Waktu penyapihan bibit yang tepat.
Setelah penyapihan, bibit dapat dipindahkan ke dalam polibag ukuran 10x15 cm. selanjutnya bibit bersama polibag dibawa ke bendeng sapih.
5. Pemeliharaan bibit
Pemeliharaan bibit meliputi penyiraman, pemupukan, penyulaman, dan pemberantasan hama/penyakit.
-       Penyiraman
            Penyiraman akan mempengaruhi bibit dalam beberapa hal diantaranya adalah:
1.      Mengurangi stress semai yang baru disapih akibat transpirasi selama akar semai belum berfungsi normal menyerap air.
2.      Penyiraman yang optimum memberikan pertumbuhan yanmg optimum memberikan pertumbuhan yang optimum pada semai/bibit
3.      Penyiraman yang berlebihan akan menyebabkan media kekurangan udara dan pertumbuhan tanaman terganggu.
4.      Peyiraman yang terlalu sedikit menyebebkan bibit kekurangan air dan hara akibatnya menimbulkan kelayuan dan terhambatnya pertumbuhan semai.
Untuk itu diusahakan agar kualitas penyiraman senantiasa optimal.
-       Pemupukan
Dengan menggunakan media perakaran yang berbeda maka perlakakuan pemupukan yang diberikan juga berbeda. Jika medianya serbuk sabut kelapa, pemupukan dapat dilakukan dengan pupuk osmocote atau pupuk lambat urai seperti TSP, FMB, DSP, dan ESP yang dilakukan saat media belum dimasukkan ke dalam polibag atau pot trays.
Untuk memicu pertumbuhan bibit sengon selain diberikan pupuk lambat urai perlu juga dilakukan pemberian pupuk NPK. Hal ini berlaku pula pada  penggunaan top soil sebagai media tumbuh tanaman.
-       Penyulaman
Penyulaman akan dilakukan untuk menggantikan bibit yang mati sebagai akibat penyapihan dan akibat lainnya. Penyulaman akan dilakukan secepat mungkin ketika diketahui bibit mati. Hal ini bertujuan agar bibit hasil penyulaman pertumbuhannya tidak tertinggal jauh. Pada kegiatan penyulaman dimungkini dengan adanya penyediaan cadangan bibit sebanyak 20% dari perhitungan kebutuhan bibit yang diperlukan.
-       Ciri bibit yang baik
Bibit sengon yang baik ditandai dengan pertumbuhan yang normal serta bebas dari hama dan penyakit baik yang menyerang akar, batang, atau daun. Bibit sengon yang baik pertumbuhannya saat berumur 3 bulan dan dapat mencapai tinggi 36 cm, diameter batang 5 mm, diameter tajuk rata-rata 26 cm, dan persentase hidup 98%.
6.  Pemasaran
            Kegiatan pembibitan ini dilakukan setelah memperoleh kesepakatan antara pembibit dengan para pembudidaya dan petani yang mempunyai lahan untuk menanam sengon. Petani tersebut akan menyetorkan dana sebesar 30% dari biaya pembibitan yang telah disepakati bersama, dan sisanya akan dilunasi ketika barang sudah diantar ke lapangan.
            Dalam hal ini pemasaran jasa yang kami tawarkan akan disebarkan melalui rekanan (mitra kerja) dan disebarkan dengan jalur internet. Pengelola juga akan membuat antisipasi jikalau nantinya tidak mampu memproduksi bibit dengan kapasitas yang telah ditentukan, yaitu mengambil/membeli bibit dari beberapa rekanan untuk dapat mencapai target produksi.





GAMBARAN KEUNTUNGAN BERTANAM SENGON
Apabila menginginkan bisnis sengon yang waktunya lebih singkat maka dapat mencoba usaha pembibitan sengon. Mengingat permintaan kayu sengon yang terus meningkat tampaknya bisnis pembibitan ini merupakan bisnis yang cukup menguntungkan. Berikut ini adalah analisis usaha dengan kapasitas 10 kg benih/tahun dalam periode waktu 1 tahun.

ANALISIS PEMBIBITAN TANAMAN SENGON

I
Modal Dasar

1.
Sewa tanah 0,5 Ha (untuk satu tahun)
Rp  1.750.000,00
2.
Sarana bangunan pembibitan:


-       Sarlon 100 m2, (@ Rp 15.000,00)
Rp  1.500.000,00

-       Kayu tiang dan papan 25 m3, (@ Rp 40.000,00)
Rp  1.000.000,00

-       Seng plastik bergelombang 20 lbr, (@ Rp 45.000,00)
Rp     900.000,00

-       Kawat ram 50 m2, (@ Rp 2.500,00)
Rp     125.000,00
3.
Peralatan:


-       Sprayer 5 buah
Rp     100.000,00

-       Sekop 3 buah
Rp       75.000,00

-       Gerobak dorong 3 buah
Rp     180.000,00

-       Gembor 3 buah
Rp       60.000,00

-       Drum 4 buah
Rp     120.000,00

-       Selang plastik 100m
Rp     180.000,00

-       Cangkul 3 buah
Rp       75.000,00

-       Ember 3 buah
Rp       45.000,00

-       Bak kecambah 300 buah
Rp  1.850.000,00

-       Panci/cerek 2 buah
Rp       40.000,00

-       Kompor 2 buah
Rp     100.000,00

Subtotal  I
Rp  8.100.000,00


II
Modal lanjutan

1.
Bahan:


-       Benih sengon 5 kg, (@Rp 22.500,00)
Rp     112.500,00

-       Pupuk NPK 150 kg
Rp     675.000,00

-       Pupuk kandang 10 kubik
Rp     250.000,00

-       Gandasil D 6 kg
Rp      175.000,00
2.
Pestisida


-       Furadan 3G
Rp      40.000,00

-       Dithane 45
Rp      84.000,00
3.
Formalin 90%, 1 liter
Rp       28.500,00
4.
Kantong polybag 290.000 buah
Rp  2.130.000,00
5.
Minyak tanah 50 liter
Rp       20.000,00

Subtotal II
Rp  3.515.000,00

III
Tenaga kerja

1.
Pembuatan Shade house, bendeng tabor, gudang, dan bendeng pencampuran media, 50 HOK
Rp     2.250.000,00
2.
Pembuatan pagar pembibitan , 10 HOK
Rp     450.000,00
3.
Pengumpulan dan pengolaan media, 15 HOK
Rp     675.000,00
4.
Pengisian ke polibag, 40 HOK
Rp     1.800.000,00
5.
Penaburan benih, 6 HOK
Rp     270.000,00
6.
Penyiraman, 200 HOK
Rp     1.000.000,00
7.
Penyapihan, 25 HOK
Rp       125.000,00
8.
Pemupukan, 60 HOK
Rp     375.000,00
9.
Pengendalian hama penyakit
Rp     200.000,00
10.
Penjaga pembibitan
Rp     550.000,00
11.
Gaji pimpinan
Rp  1.500.000,00

Subtotal III
Rp  9.195.000,00

IV
Lain-lain

1.
Transportasi
Rp      350.000,00
2.
Administrasi
Rp      150.000,00

Subtotal IV
Rp      500.000,00

V. Keuntungan
            Besarnya pendapatan dihitung berdasarkan pada jumlah bibit yang tersedia dikalikan dengan harga jual bibit @ Rp 450,00. Jumlah bibit tersedia dapat dihitung sebagai berikut.
Jumlah benih               = 5 kg, @40.000 benih = 200.000 benih
Daya kecambah           = 80% = 160.000 semai
Persen kematian          = 15% =   24.000 bibit
Bibit tersedia               = 160.000 – 24.000
                                    = 136.000 bibit
Pendapatan                 = Rp 61.200.000,00

Keuntungan                = Pendapatan – Biaya (subtotal I + II + III + IV)
                                    = Rp 61.200.000,00 – 21.310.000,00
                                    = Rp 39.890.000,00 (total setahun)

                                    = Rp 3.324166,67 (per bulan)

KAMI JUGA SELAKU DESA PARAKAN SALAM MENYEDIAKAN LAHAN UNTUK PENANAMAN BIBIT SENGON 
LAHAN SISTEM SEWA : 
1. 1 HEKTAR PER 5 TAHUN 
     Rp. 8.000.000,- (Keamanan Tanggung Jawab Kami)
2. 1 HEKTAR PER 10 TAHUN 
    Rp. 15.000.000,- (Keamanan Tanggung Jawab Kami)

Silahkan Kirim Email Jika Membutuhkan lahan Untuk Penanaman Sengon ke parakansalam.desa@gmail.com 

FORMAT EMAIL : 
Nama : 
Alamat : 
Telp : 
Email : 
Lahan yang Dibutuhkan : 

STOK TANAH 50H jika sudah terkumpul sebayak 50 H Penyewa kami akan segera menghubungi saudara.